anjing laut

Rabu, 29 Januari 2020

Kesenian Aceh



 Gerakan Menghentak Tari Ratoh Jaroe

Image result for Gerakan Menghentak Tari Ratoh Jaroe

     Minggu Sore itu (19/4) halaman Tugu Api Taman Mini Indonesia Indah ada yang berbeda. Ribuan orang penari yang terdiri dari para pelajar yang ada di Jakarta sudah berbaris membentuk formasi tertentu untuk menarikan salah satu tarian aceh, ratoh jaroe.
Sekitar 1700 penari dengan pakaian khas penari aceh ini berbaris memenuhi seluruh area Tugu Api. Dengan baju beraneka warna, para penari terlihat antusias untuk bersama-sama menarikan tari ratoh jaroe, salah satu tarian khas dari Aceh.
Begitu musik yang berisi syair-syair keagamaan yang dalam bahasa Aceh disebut Rapa'i mulai dimainkan, serentak seluruh penari melakukan gerakan yang kompak. Gerakan tangan yang bergerak ke atas dan kebawah dan sesekali kepala yang juga bergerak ke kanan dan ke kiri membuat pertunjukan tari ratoh jaroe begitu semarak untuk disaksikan.

Kreasi-kreasi gerakan yang kompak serta formasi yang rapih menjadikan sajian pertunjukan sekitar 1700 penari yang digagas Rumoh Budaya serta mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Aceh ini menjadi tontonan yang bagus untuk disaksikan.

Melihat Tari Ratoh Jaroe, sekilas memang mirip dengan tari saman yang begitu populer di Aceh. Namun, ada sedikit perbedaan pada gerakan di antara kedua tarian ini. Jika pada tari saman gerakan lebih kepada menonjolkan gerakan badan sementara untuk tari ratoh jaroe lebih dominan gerakan-gerakan tangan serta gabungan dari gerakan badan.

Kesenian Bengkulu



Dol, Hentakan Irama Gendang Tradisional Bengkulu


Image result for Dol, Hentakan Irama Gendang Tradisional Bengkulu

     Hentakan irama ritmis dari tabuhan alat musik yang satu ini mampu memberikan kemeriahan tersendiri. Semangat tetabuhan dari alat musik yang satu ini biasanya membuat setiap pertunjukan menjadi hidup dan semangat. Inilah dol, gendang khas asal Bengkulu yang biasanya dimainkan beramai-ramai.

Seperti yang tersaji saat para penabuh dol membuka acara pertunjukan parade tari nasional di Taman Mini Indonesia Indah dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun yang ke-40. Beberapa penabuh dol menabuh secara bersama-sama dengan irama yang sama dan membuat pertunjukan menjadi lebih semarak.
Sekilas, bila dilihat bentuknya, dol terlihat seperti perkusi. Namun bunyi yang dihasilkan dari alat musik ini tidaklah sama dengan perkusi. Dol terbuat dari kayu atau bonggol kelapa yang dikenal kuat namun ringan. Bonggol pohon kelapa ini kemudian diberi lubang pada bagian atasnya.
Terakhir, baru ditutup dengan kulit kambing atau kulit sapi. Untuk diameter dol, biasanya yang memiliki ukuran yang besar mencapai 70 - 125 cm dengan tinggi mencapai 80 cm. Sementara itu, untuk alat pemukul dol biasanya memiliki diameter sekitar 5 cm dengan panjang sekitar 30 cm. Pembuatan dol biasanya membutuhkan waktu sekitar 3 minggu tergantung dari kesediaan kayu yang ada.

Dol dapat dimainkan dengan 3 teknik yang biasanya mengikuti suasana pertunjukan dimana dol dimainkan. Seperti, teknik suwena, dalam teknik ini biasanya dol dimainkan dengan tempo lambat. Teknik ini biasanya dimainkan saat suasana duka cita.

Ada juga teknik tamatam yang biasanya dimainkan dengan suasana riang. Dalam teknik ini dol dimainkan dengan tempo cepat dan konstan. Teknik terakhir adalah suwari, teknik ini dimainkan dengan tempo pukulan satu-satu dan biasanya dimainkan saat perjalanan panjang. Dalam memainkan dol, biasanya disandingkan dengan alat musik lainnya seperti tassa, sejenis rebana yang dipukul dengan menggunakan rotan.
Dahulu dol biasanya dimainkan pada acara-acara khusus seperti perayaan tabot yang dilakukan masyarakat Bengkulu yang masih keturunan tabot. Dol tidak bisa dimainkan oleh sembarang orang, hanya orang-orang keturunan tabot saja yang boleh memainkan alat musik ini.  

Seiring perkembangan, dol mulai banyak dimainkan di berbagai acara khusus. Seniman-seniman di Bengkulu belakangan juga giat mengenalkan dol ke tengah-tengah masyarakat umum. Bahkan, bagi yang tertarik memiliki dol, alat musik yang biasanya di cat dengan warna-warna cerah ini biasanya dijual dengan harga antara Rp850.000 hingga jutaan rupiah tergantung besar kecilnya dol.

Kesenian Kalimantan Tengah

Kerajinan Rotan Kabupaten Katingan

Image result for Kerajinan Rotan Kabupaten Katingan

     Kalimantan kaya akan berbagai sumber daya alam. Begitu pula dengan Kabupaten Katingan di Kalimantan Tengah. Kabupaten yang beribukota di Kasongan ini merupakan penghasil rotan terbesar di Kalimantan. Dari 13 kecamatan, tercatat 10 di antaranya merupakan wilayah penghasil rotan. Tak heran jika Kabupaten Katingan mampu menghasilkan 500 ton lebih rotan dalam waktu sebulan.

Rotan memang sejak dulu sudah menyatu dengan kebudayaan masyarakat Suku Dayak di Katingan. Selain digunakan dalam berbagai upacara dan perayaan, rotan juga dimanfaatkan menjadi bahan pangan yang lezat. Belakangan ini, hubungan rotan dengan Suku Dayak di Katingan semakin erat. Tidak hanya untuk keperluan upacara dan bahan pangan, rotan juga telah dikembangkan menjadi bahan pembuat kerajinan.
Pemerintah Kabupaten Katingan telah melakukan berbagai upaya agar kerajinan rotan dikenal oleh masyarakat luas. Usaha-usaha tersebut antara lain mendirikan sekolah menengah kejuruan yang fokus pada kerajinan rotan, menjalin kerjasama dengan lembaga perbankan untuk peminjaman modal usaha kerajinan rotan, hingga melakukan berbagai pelatihan.
Pemerintah Kabupaten Katingan juga telah menginstruksikan kepada pemilik perkebunan rotan untuk membudidayakan rotan jenis tertentu. Rotan yang dibudidayakan antara lain rotan manau, rotan taman, dan rotan sabutan. Ketiga jenis rotan tersebut merupakan jenis rotan yang biasa digunakan sebagai bahan utama pembuatan kerajinan.
Kerajinan rotan yang dihasilkan masyarakat Katingan memiliki perbedaan jika dibandingkan kerajinan rotan dari Pulau Jawa. Kerajinan rotan Katingan menggunakan motif khas Dayak, seperti kemang atau burung tingang. Motif-motif tersebut memang sudah melekat dengan kebudayaan dan menjadi ciri etnisitas Suku Dayak.
Awalnya, produk-produk kerajinan rotan Kabupaten Katingan sebagian besar berupa alat-alat keperluan rumah tangga, seperti aneka wadah, tas sayur, dan tikar. Seiring berjalannya waktu dan pengembangan yang dilakukan, kerajinan rotan Katingan kini telah memproduksi berbagai mebel (seperti kursi, meja, dan pembatas ruangan) hingga benda-benda penunjang kehidupan modern lainnya. Selain itu, kerajinan rotan pun telah dipadukan dengan bahan lain seperti kulit sehingga menghasilkan produk yang memenuhi unsur praktis tanpa melupakan nilai estetis.
Harga yang ditawarkan para perajin rotan Kabupaten Katingan juga cukup variatif. Aneka kerajinan rotan yang mereka hasilkan ditawarkan mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Tas dan wadah biasa dijual dengan harga seratus ribu, atau bisa lebih mahal tergantung ukuran dan kerumitan motif yang ditawarkan.
Aneka kerajinan rotan yang dihasilkan para perajin Kabupaten Katingan tidak hanya dipasarkan di dalam negeri. Produk-produk kerajinan ini telah dipasarkan ke luar negeri, terutama Eropa. 

Kesenian Sulawesi Utara

Salude, Alat Musik Berdawai Dua Khas Sulawesi Utara

Image result for Salude, Alat Musik Berdawai Dua Khas Sulawesi Utara
     
Kolintang selama ini identik dengan Provinsi Sulawesi Utara. Namun, di provinsi yang memiliki ibukota di Manado ini terdapat satu alat musik tradisional lainnya yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat yaitu salude.

Salude merupakan alat musik sejenis sitar tabung yang termasuk dalam kelompok ido-kardofon. Cara memainkan alat musik tradisional ini dengan cara dipetik serta dipukul dengan pelepah pinang.
Alat musik salude memiliki dua dawai yang diperoleh dari kulit ari. Salude sendiri terbuat dari seruas bambu. Pada bagian tengah badan bambu terdapat lubang yang memiliki fungsi sebagai resonator.

Kesenian Jawa Timur

Tari Petik Pari, Simbol Budaya Masyarakat Agraris

Image result for Tari Petik Pari, Simbol Budaya Masyarakat Agraris

     Satu persatu penari naik ke atas panggung. Lima orang penari bergerak melingkar, memutar, dan berbaris lurus dengan gerak dasar tumit, tangan dan pinggul. Kemudian mereka berpencar dan saling berhadapan satu sama lain dalam bentuk setengah lingkaran. Gerakan tari dilanjutkan dengan penari berjongkok seraya meragakan gerakan memetik padi. Inilah tari Petik Pari, tari khas Pacitan yang ditarikan untuk merayakan hasil panen padi.

Usai menampilkan gerakan utama, kemudian 5 penari melakukan gerak saling berangkulan, memainkan kaki, memutar putran kecil, dan berlanjut ke putaran besar. Empat orang penari mengelilingi 1 penari dan berhenti dengan posisi seolah-olah sedang menyambut penonton. Rupanya gerakan indah ini merupakan gerakan penutup dan para penari kembali ke belakang panggung.
Beberapa daerah masih memegang teguh tradisi penghormatan terhadap Dewi Sri. Figur Dewi Sri menjadi simbol dan kerangka acuan berpikir bagi orang Jawa khususnya petani Jawa di dalam prosesi siklus hidup yaitu perkawinan, memperlakukan rumah dan tanah pertaniannya. Di beberapa tempat mempunyai ritual adat petik pari berupa syukuran. Diciptakan tarian Petik Pari ini salah satu upaya mewacanakan kembali pentingnya prosesi petik padi dalam khasanah budaya Jawa dan nusantara.
Tari Petik Pari merupakan tarian kontemporer yang dikembangkan oleh Anang dari sanggar Blarak Pacitan. Anang dan istrinya dalam setahun terakhir mulai mengeksplorasi budaya lokal untuk diangkat menjadi tarian. Anang dan istrinya bekerja sebagai guru tari dan membina sekitar 500 anak dan remaja di Pacitan, Jawa Timur.
Di sanggar Blarak Pacitan, anak-anak sanggar banyak bereksplorasi gerakan-gerakan dasar tari. "Mereka anak sanggar yang telah menginjak remaja mulai berpotensi menularkan ilmunya, kita perintah untuk melatih adik-adik sanggar yang umurnya dibawahnya. Selain itu kita kirim ke sekolah-sekolah untuk melatik anak didik di SD, SMP dan SMA," tutur Anang dalam pementasan Seni Budaya Pacitan di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), 2 Agustus 2015.
Anang mengungkapkan, tugasnya menciptakan tontonan yang menarik. Dalam dunia tari kontemporer, selain menciptakan gerak-gerak tari, saya selalu mengiringi dengan tradisi dan budaya. "Jadi tari petik pari ini memang mengejawantahkan nilai positif masyarakat agraris di Jawa." ungkapnya.

Kesenian Kalimantan Barat

Melihat dari Dekat Busana Adat Suku Dayak Salako

Image result for Melihat dari Dekat Busana Adat Suku Dayak Salako

     Kebanyakan orang dayak Salako, bertani, berladang, berburu dan menoreh karet, kehidupannya sangat sederhana, tidak mempunyai identitas yang menonjol, seperti layaknya dayak pesisir. Dayak Salako memegang teguh hukum adat istiadat. Dayak Salako menjadi penengah antara suku yang bertikai. Fungsi hukum adat tidak hanya membuat jera, namun tetap mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai.

Desa Bagak Sahwa, Singkawang menyimpan banyak keragaman budaya Dayak Salako. Salah satunya adalah pakaian adat Dayak Salako yang telah dikreasikan oleh Kepala Suku Dayak Salako, FX. Adam. Pakaian adat antara lain, biusuk berupa gelang tangan dan gelang untuk kaki. Sedangkan kapuak merupakan penutup aurat laki Suku Dayak Salako dan celana untuk kaum perempuan. Kandit merupakan sebuah ikat pinggang, ikat kepala warna merah untuk kaum laki-laki dan kedung merah untuk kaum perempuan serta topi dengan paruh burung Enggang yang menjadi ciri khas Suku dayak Salako. Busana Dayak Salako ini dikreasikan sedemikian rupa untuk memperkaya budaya Dayak Salako dan dipakai pada acara adat kebesaran.
Biusuk, kapuak, kandit, rompi perempuan, rompi laki-laki celana, ikat kepala dan topi serta ekor burung Ruai yang menjadi ciri khas Dayak Salako. Di kreasikan dengan memberikan buah dari pohon ipuh yang dirangkai satu persatu menjadi manik-manik yang menghiasi setiap baju adat Dayak Salako. Serabut kulit kayu yang tersisa digunakan untuk membuat beberapa motif penghias dengan menempelkan lem pada masing-masing bahan.
Proses pengerjaan atribut yang dikreasikan berasal dari kulit kayu yang masih basah dipukul sehingga mudah dibentuk, kemudian dijemur. Untuk benangnya digunakan serat pohon nanas, juga digunakan akar-akar kayu di hutan. Sumpit dibuat dari batang kayu tembesi dan diberikan ukiran-ukiran indah. Sedangkan anak sumpit dikreasi sedemikian rupa untuk perlombaan dan tempat sumpit yang juga terbuat dari kulit kayu.
Selama beratus-ratus tahun leluhur dayak Salako menggunakan pakaian yang berasal dari kulit pepohonan. Dalam hal ini, upaya FX. Adam untuk melestarikan warisan leluhur yang pernah berjaya di masanya. Pada masa penjajahan Jepang, baju adat ini masih digunakan. Di negara Belanda, ada dokumen yang mempertegas leluhur suku Dayak Salako yang diabadikan dalam sebuah foto.
Suku Dayak Salako memiliki upacara adat kebesaran meliputi upacara Samsam (upacara Nyepi), Upacara Baketo, (sebuah upacara untuk mengambil kayu di hutan, supaya terhindar dari bahaya dan meminta izin dari penguasa hutan). Upacara Nyang Padi (adat ketika habis merumput kemudian dilakukan dengan ritual). Upacara Nanam Pabanihan (dilakukan cara menabur benih di lahan tertentu). Upacara Tahun Baru Padi, (sembahyang mengambil padi baru). Upacara tersebut menurut FX Adam, bersifat mengikat dalam hukum adat Dayak Salako dan rutin dilakukan setiap tahunnya.
Ruang lingkup Dayak Salako dahulu terpusat di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, setelah mengalami pemekaran, suku Dayak Salako terbagi menjadi 3 kabupaten, antara lain, Sambas, Bengkayang dan Singkawang. Setelah terjadi pemekaran, Dayak Salako meliputi 5 kelurahan antara lain Narangkogn, Pajintan, Sangokulur, Bagak sahwa, dan Mayasopa. 

Kesenian Jawa Barat

Sosok Kepahlawanan Wangsa Suta dalam Tari Wangsa Suta

Image result for Sosok Kepahlawanan Wangsa Suta dalam Tari Wangsa Suta

     
     Perlahan-lahan 7 orang penari yang semuanya laki-laki masuk ke panggung, dengan busana serba kuning layaknya hulu balang kerajaan mereka melakukan gerakan seperti sedang bersiap untuk perang. Gerakan-gerakan yang membentuk formasi seperti siap memanah lawan ini menjadi bagian gerakan tari yang tersaji di tari Wangsa Suta, tari kreasi dari Jawa Barat.

Tari Wangsa Suta termasuk tari kelompok. Tari ini menampilkan sosok Wangsa Suta sebagai pemimpin. Gerakan para penari Wangsa Suta terlihat seperti memperlihatkan aneka bentuk formasi dalam peperangan. Dua penari di depan membentuk formasi dan meloncat dengan rancak sambil berputar. Gerakan-gerakan penari pada awal-awal tarian seperti sedang menggambarkan keadaan akan bersiap perang. Pergerakan tangan dan kaki yang perlahan-lahan dan tatapan mata para penari yang menoleh ke kanan ke kiri sambil berjalan di sekitar area panggung. Tari ini pun semakin hidup dengan iringan musik gamelan yang sekilas seperti alunan musik bali hanya saja ada tambahan bunyi suling.
Latar belakang peristiwa perang yang dialami Wangsa Suta dan pasukannya menjadi inspirasi gerakan dari tarian yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, ini. Para penari yang kesemuanya pria ini dirias setampan mungkin dengan tujuan mempertegas aksen dari para penarinya. Begitu juga dengan pakaian yang dipakai para penari yang mengedepankan desain dan warna yang bersumber pada seni dan tradisi rakyat Jawa Barat.
Tari Wangsa Suta bercerita mengenai pertempuran Wangsa Suta yang merupakan seorang tokoh pemuda yang membuka lahan Tegalan Gunung Parang menjadi Kota Sukabumi. Tujuan Wangsa Suta membuka lahan yang dalam bahasa Sunda berarti ngababakan ini sebagai syarat apabila ingin menikah dengan buah hatinya Nyi Pudak Arum. Kemudian dalam proses membuka lahan tersebut, Wangsa Suta bertempur dengan algojo utusan Demang Kartala yang menculik Pudak Arum. Setelah melalui peperangan yang hebat, Wangsa Suta pun berhasil mengalahkan algojo tersebut.